
Beberapa waktu lalu, dunia maya Indonesia sempat dihebohkan dengan wacana pemblokiran Roblox, sebuah platform permainan daring yang sangat populer di kalangan anak-anak dan remaja. Ironisnya, langkah ini muncul di tengah kritik publik terhadap lambannya pemerintah dalam memblokir situs judi online, yang jelas-jelas lebih merusak secara moral dan ekonomi.
Di sinilah muncul pertanyaan besar: mengapa pemerintah lebih sigap menutup akses ke permainan edukatif seperti Roblox, dibandingkan membersihkan internet dari praktik perjudian yang meresahkan?
Roblox memang bukan tanpa kekurangan. Ada konten yang perlu diawasi dan diafilter. Tapi platform ini juga memiliki nilai edukatif dan kreatif yang tinggi—anak-anak bisa belajar coding, desain game, dan bahkan kewirausahaan digital. Sementara itu, judi online terus tumbuh liar, merusak keuangan keluarga, dan mengundang kecanduan tanpa henti.
Sayangnya, kecepatan tindakan pemerintah dalam dua isu ini terlihat timpang. Yang justru menjadi sasaran lebih dahulu adalah ruang bermain dan belajar anak-anak, bukan sumber kerusakan sosial yang nyata. Kebijakan seperti ini menunjukkan betapa pentingnya fondasi yang kuat dan arah yang jelas—baik dalam pemerintahan, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita tarik analogi sederhana namun kuat: bayangkan kebijakan publik seperti atap rumah. Ia seharusnya melindungi, mengayomi, dan memberikan rasa aman kepada penghuni di bawahnya. Sama seperti atap, kebijakan yang rapuh bisa “bocor”—membiarkan ancaman masuk, sementara menutupi hal-hal yang seharusnya dibiarkan berkembang.
Di sinilah UPVC Roofmaxx’s masuk sebagai simbol dari apa yang seharusnya kita harapkan dari sebuah “atap”—baik literal maupun metaforis:
Kita butuh lebih banyak tindakan nyata dan arah kebijakan yang melindungi masa depan generasi muda, bukan yang menutup peluang mereka untuk belajar dan berkembang. Jika pemerintah ingin membangun ‘atap’ yang benar-benar melindungi rakyat, mungkin mereka bisa belajar dari UPVC Roofmaxx: kuat, tangguh, dan tidak mudah ditembus oleh hal-hal yang tidak seharusnya.
WhatsApp us